Jumat, 28 Oktober 2016

Sajak-Sajak Introspeksi: Ampun Tuhan Anak Negeriku!



Oleh: Mulki Mulyadi*

Riweh sekarang pemuda-pemudi tak tahu diri, dimana-mana.
Zaman orang-orang edan juntrungannya satu, lampiasan nafsu.
Berbekal ilmu dengan konsep pemikiran layaknya filosof zaman yunani.
Yang bertanya tanpa ada yang jawab akhirnya mereka jawabkan sendiri.
Krisis contoh yang tua menasehati yang muda padahal dulu sama sahaja.
Dulu juga pemuda labil lebih banyak tahu yang haram dari yang halal.
Pantas saja keturunannya tak mahu dengar lagi kata bapanya.
Berpegang dalam tali yang rapuh tak lagi tahu apa yang lurus.

Kata penyair zamane edan nyatane wes dadi dulu.
Zaman VOC orang Nusantara banyak pragmatis, lihat untung rugi.
Anak negeri ditindas sultan dan raja melihat sahaja, tonton wayang dari jauh.
Sebab tak punya nyali selepas Diponegoro yang nyalinya sebesar pulau Jawa.
Perang demi nama leluhur dan nilai bangsanya yang ternoda terinjak.
Seperti pula Aceh yang berdarah namun lekat erat tali pendiriannya.
Juga Pahlawan yang datang silih berganti tawarkan aksi budi sejati.
Hingga sekarang orang lagi sanjung dapat teladan dan jua petuah.

Dimana gerangan misal yang tak lagi jadi contoh itu.
Dalam generasi muda zaman baru yang tak lagi mahu peduli.
Hanya asyik masyuk hiburan sendiri tak ingat sejarah diri.
Padahal pejuang syuhada penuhi Surabaya dengan takbir terbahana.
Seluruh Jawa memerah ditatap dari awan yang putih, timbulkan semangat merah putih.
Sebelumnya sudah bersatu di bawah panji bahasa dan rasa. Sumpah teladan.
Pada masa ketika anak negeri malah banyak yang buta huruf dan butuh gizi.

Rasa zaman sekarang rasa arak dibanding dahulu yang rasa darah.
Pada mabuk kekuasaan politik orba dikecam politik sendiri lari-lari.
Linglung seperti taman kanak-kanak layaknya kata si guru bangsa.
Belum mampu rayakan sejahtera jargon revolusi mental yang terpental.
Karena pucuknya busuk ditebas akarnya yang busuk, sebetulnya.
Ya dipotong terus tak ada habisnya tak tahu sumbernya.
Riweh, rasa anak negeri yang tak malu diri ucapkan janji.
Mereka pun tak tahu apa bisa jawabkan yang menjadi program.
Asal kakek senang bapak girang bukan kepalang.
Bagi-bagi kesenangan di kursi yang dahulunya milik rakyat.

Ampun tuhan anak modern kelakuannya sekarang lain.
Dari kampung hingga ke kota, mungkin sama tak layaknya.
Yang terbalik dianggap baik, yang tertata dianggap ambrul.
Padahal sama dulu lahir di kampong, bergelimang keringat para petani.
Bangsa petani yang mahu kembali jadi pelaut tapi takut ombak dilamun.
Lucu ya sekarang ini tak ada lagi yang mahu bersusah introspeksi.
Mudanya ideologis tuanya pragmatis materialis tak mampu diandalkan.
Hanya mereka yang sedikit berjuangan demi kemajuan meski hasilnya kecil.
Mending asal ada usaha daripada tidak hanya duduk bertopang dagu.

Ampun tuhan pemuda sekarang ingatnya sumpah palapa.
Sumpahnya sendiri tak jadi soalan lagi, gayanya itu banyak meniru.
Aset bangsa dijual diobral jangan-jangan menimbun harta.
Rakus dunia, cinta pangkat jabatan jadi pedoman hidup. Masam sekali.
Soal budaya tak lagi mengerti budayawan banyak tak mau lagi belajar.
Pengennya pintar biar berguna jadi pejabat tiada gunanya.
Ampun tuhan, sekarang anak bangsa macam gimana.
Mudah-mudahan timbul kembali teladan rakyat, tak lagi maling-maling.
Hanya pintar retorik kosong aksi.

Ampun Tuhan….



*Penulis adalah Sastrawan Sejarah dari Komunitas Rempah, saat ini mengambil Master di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia.

Kamis, 27 Oktober 2016

Puisi Filantropi: Tentang Pertolonganmu di kala aku sedih



Oleh: Mulki Mulyadi*

Tak pasti jika aku sedang kelelahan apakah ada yang menopangku.
Tak pasti bila ada kebutuhanku ada yang mencukupiku.
Jenuh dengan rutinitas buatku kaku dengan urat-urat yang mengeras.
Aku tak yakin bila kubicara tentang dunia, ada yang dengan senang hati mendengarku.
Dunia dimana hati-hati manusia berpacu terus membuat perubahan.
Sebuah belantara yang hukumnya pun hukum rimba, tak pasti.

Tapi pertolonganmu telah memberi arti tentang kemanusiaan.
Seperti daun yang jatuh ke tanah yang memberi makna kesuburan.
Jarang ada kepedulian seperti yang engkau lakukan ini, jarang.
Dikala semua manusia bagaikan orang-orangan sawah yang digerakkan.
Atau robot yang berpacu dalam dentuman waktu tanpa akhir.
Tanpa perasaan untuk berbagi dan bersuka cita dengan sesama.
Di dunia yang telah membeku ini, semua hati pun membeku dalam mimpi.
Tentang kemakmuran yang tidak terbatas walau sumbernya terbatas.

Kau berpikir dengan cinta, bukan cinta yang membuatmu berpikir.
Orang-orang yang kemalangan menerima nasib baik darimu.
Penderitaan tersembuhkan dan kesedihan tak lagi terperikan.
Karena dikala orang tercabik hatinya, kau datang dengan obat beribu cinta.
Bagai salep mujarab sembuhkan perangai dusta diantara manusia.
Tumbuhkan benih kebersamaan dalam jeritan nafas tersengal manusia modern.

Tentang dirimu yang bertangan salju, ditengah panasnya udara padang pasir.
Tahukan engkau ribuan orang menjerit kehausan diujung dunia sana.
Mereka butuh tangan saljumu untuk meredakan dahaga cinta yang dikekang jeratan tamak.
Mereka dulunya merasa sendiri, sekarang mereka merasa punya keluarga.
Di dunia yang kau buktikan ini, bahwa perbedaan bukan lagi alasan untuk menjauh.
Bahwa pertolongan tulus dari hati akan menyadarkan mereka yang ragu.
Cita-cita murni tentang mimpi membangun dunia yang penuh cinta.
Ketika kau ulurkan tanganmu, aku sedang sedih. Tak ada yang membantu.
Kau sangat bersemangat seakan tak ada luka dalam dadamu. Itulah prinsipmu.

Hukum hewani seakan raib ketika kau datang, yang ada hukum manusia.
Manusia yang memberi manusia, bukan manusia menerkam manusia.
Ketika kusadar dari sedihku kulihat banyak orang yang sama pulihnya.
Sembari menantang hari baru yang penuh pemberian ikhlas dari kalbu.
Bersama-sama terjalin dalam ikatan yang tak akan pernah rapuh.
Semua yang telah kau bantu akan bersamamu, karena meneladanimu.
Jadilah terus teladan bagi yang lain, 
kami mendukungmu.
Dalam hati-hati kami yang padu.
Demi dunia yang lebih berarti.




*Penulis adalah sastrawan sejarah dari Komunitas Rempah.

Kamis, 25 Agustus 2016

yang terkasih


Oleh: Mulki Mulyadi

Tanda lahirnya alunan semesta.
Semua sesembahan tertekuk karenanya.
Dialah sang terpilih yang terkasih.
Tuhan semesta cinta padanya.

Mawar harum nafasnya syahdu.
Rambulan ia nampaklah sama.
Cahaya tangannya lembutkan kalbu.
Suaranya merdukan jiwa raga.

Datangnya dari bilik-bilik Al-Haram.
Menyemai para pengabdi di Al-Munawwarah.
Maka dituntunnya ke lembah cahaya.
Tergetar semua mata ke arahnya.

Berjatuhan air mata mengingatnya.
Kerinduan bagi para perindu.

Muhammada...

Minggu, 17 April 2016

Cahaya yang kutunggu

Fajar yang merekah tertutup debu.
Badai gejolak menantang cahaya.
Dahulu aku tertidur Alpa.
Cahayaku tak secerah kelihatan.
Hanya pikiran ia bak rembulan.
Nyatanya hanyalah lilin redup.

Kini aku menggapai dalam gelap.
Menyusuri sempit sembari ringkih.
Di sela-sela keburukan nafsu.
Kutunggu fajar merekah bebas.
Tanpa hijab dan kabut hati.
Aku menantang kegelapan semu.

Yang kukotori bertahun lampau.
Duh, jikalau ada setitis cahaya.
Walau itu membakar namun terang.
Menembus kelamnya jiwa fana.
Yang sedang limbung terbuang.


Duh, kiranya….

Minggu, 19 Oktober 2014

Banyak orang!

Banyak orang berkata:
Semua akan indah pada waktunya??.
Aku sanggah...
Bagaimana jikalau tidak jadi indah, malah bertambah buruk? kan ada neraka!
Jadi seharusnya yang kita katakan adalah:
Allah berjanji jika kita Bertakwa, semua akan indah pada akhirnya.

Banyak orang takut menangis, dibilang cengeng katanya! Aku katakan!!!
Kadang manusia itu merasa tidak berguna, tidak ada harapan, merasa bodoh, dikucilkan, dimarjinalkan, dan dipinggirkan.
Hanya Dia yang maha kasih, Dia yang maha cinta, Dia yang maha nyata, Dia yang maha penolong, hanya Dia yang maha segalanya.
Kemana lagi akan berlari?
Kemana lagi akan mengadu?
Bohong, merasa tegar dalam segala hal.
Bohong! merasa tak butuh apa pun.
Bohong!...
Orang sekelas Umar bin Khattab pun selalu menangis.
Orang sekelas Khalid bin Walid pun selalu meratap.

Hanya Dia, Hanya kepadaNya!!


Banyak orang lelah berdakwah.  Aku katakan!
Berbeda jalan Dakwah yang kita tempuh, beda pula tantangan dan tingkat kesulitannya.
Tinggi rendah kemajuan dakwah, tergantung kualitas spiritual diri sendiri. Tingkatkannn!!!

Senin, 21 Juli 2014

MIKIRIN UMAT :)

Duduk-duduk di serambi rumah sambil menikmati sore yang indah, sembari menunggu saat berbuka puasa daripada ngabuburit gak jelas. Mending nulis-nulis di Blog. Eh, banyak pikiran-pikiran terlintas namun tidak bisa dituliskan. Karena terbatasnya kata-kata... puitis dikit gak apa-apa kan :D ! diantara yang terpikir adalah: memang pada zaman sekarang ini banyak hal yang terjadi di dunia. Mulai dari Pilpres 2014, Serangan Israel atas Gaza yang memilukan, sampai jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di Ukraina. Kejadian-kejadian luar biasa yang terjadi berdekatan, bahkan sedang berlangsung hingga tulisan ini dibuat.
Oh iya hampir lupa, kejadian kontroversial lainnya adalah berdirinya Khilafah Islamiyah oleh kelompok ISIS di Irak. Yah, meskipun begitu organisasi Hizbut Tahrir tidak mengakuinya dengan alasan belum tercukupi syarat dan rukunnya. Whatever lah... The point is, dunia sekarang tengah menjalani perubahan besar-besaran yang fundamental. Disamping mengganggu jalannya negara-negara yang sedang berkembang, juga mengganggu pikiran orang-orang yang tidak penting seperti aku. hehe...
Pikiran lainnya adalah bagaimana kondisi dari bangsa indonesia nantinya bila keadaan di negara ini tidak berubah. Kalau hanya stagnan seperti ini sih tidak maju-maju kayaknya. Dari pemimpin hingga rakyat jelata butuh perhatian yang intens dan berkesinambungan dari para pemikir, guru, cendikiawan dan Ulama yang ikhlas mengabdi untuk umat. kadang iri melihat apa yang terjadi di Turki sekarang ini. Katanya sih ya, banyak muncul orang-orang jujur yang menonjol di pemerintahan, banyak orang-orang saleh di kalangan para pedagang dan pengusaha. Rakyatnya pun sadar agama meski pemerintahannya masih sekuler meski banyak pula yang Atheis. Menurutku, ini karena banyak Ulama yang mengabdikan diri mereka secara total untuk membina umat yang baru bangkit dari keterpurukan sistem sekuler tersebut. Sedangkan Indonesia, negara yang tercinta ini terkadang lemah dan lengah dalam mengantisipasi kerusakan yang merajalela. Tidak adanya tokoh sentral dari kalangan Ulama yang membina umat secara keseluruhan menyebabkan orang lari sendiri-sendiri. tidak ada yang rasanya pantas untuk diteladani.
Hmm, capek ya mikirin umat, sore-sore lagi...
memang apa pentingnya!
ya tinggal persepsi masing-masing aja.
tinggal peduli apa engga.

Salam Ramadhan!!!!....


Kamis, 03 Juli 2014

Sahur Berkah

Ya! Sahur memang membawa keberkahan. Sahur menjadi salah satu Sunnah Rasulullah SAW bagi kaum Muslimin yang berpuasa. Tasahharu,, Fainna Fissahuuri barokah. Begitu sabda Nabi SAW yang mengguncang dada kita semua. Sahur merupakan aktifitas wajib pada bulan Ramadhan, memang ia tidak benar-benar wajib, namun bila tidak sahur barangkali sepanjang hari si Fulan yang berpuasa akan terasa susah dan sulit. ada satu cerita.
Malam harinya aku terpaksa begadang demi menyelesaikan tugas makalah yang tak kunjung selesai. Malam itu aku berharap pada sahabatku yang biasa bangun subuh untuk membangunkanku untuk sahur dini hari nanti, namun harapanku tak kunjung berbuah.
Aku terbangun dengan kaget pukul 04.22. Waktu hampir mendekati Imsak.
Alamaak!!!! bukan mainnya kalang kabut aku langsung menyalakan kompor untuk memasak mie.Tiba-tiba aku teringat kawanku yang masih tertidur pada saat itu. Aku lalu berteriak membangunkannya dan berkata ini hampir menjelang Imsak. Kami berdua pun dengan terburu-buru menyantap mie setengah matang yang kebanyakan bumbu sambil berusaha menahan tawa akibat telat sahur. Akhirnya makan sahur ditutup dengan seteguk air diiringi suara merdu adzan dari masjid.
Alhamdulillah pas, Jawabku dengan temanku itu hampir bersamaan,

Berkah Insya Allah.... :))