Oleh: Mulki Mulyadi*
Tak pasti jika aku sedang kelelahan apakah ada yang
menopangku.
Tak pasti bila ada kebutuhanku ada yang mencukupiku.
Jenuh dengan rutinitas buatku kaku dengan urat-urat yang
mengeras.
Aku tak yakin bila kubicara tentang dunia, ada yang dengan
senang hati mendengarku.
Dunia dimana hati-hati manusia berpacu terus membuat
perubahan.
Sebuah belantara yang hukumnya pun hukum rimba, tak pasti.
Tapi pertolonganmu telah memberi arti tentang kemanusiaan.
Seperti daun yang jatuh ke tanah yang memberi makna
kesuburan.
Jarang ada kepedulian seperti yang engkau lakukan ini,
jarang.
Dikala semua manusia bagaikan orang-orangan sawah yang
digerakkan.
Atau robot yang berpacu dalam dentuman waktu tanpa akhir.
Tanpa perasaan untuk berbagi dan bersuka cita dengan sesama.
Di dunia yang telah membeku ini, semua hati pun membeku
dalam mimpi.
Tentang kemakmuran yang tidak terbatas walau sumbernya
terbatas.
Kau berpikir dengan cinta, bukan cinta yang membuatmu
berpikir.
Orang-orang yang kemalangan menerima nasib baik darimu.
Penderitaan tersembuhkan dan kesedihan tak lagi terperikan.
Karena dikala orang tercabik hatinya, kau datang dengan obat
beribu cinta.
Bagai salep mujarab sembuhkan perangai dusta diantara
manusia.
Tumbuhkan benih kebersamaan dalam jeritan nafas tersengal
manusia modern.
Tentang dirimu yang bertangan salju, ditengah panasnya udara
padang pasir.
Tahukan engkau ribuan orang menjerit kehausan diujung dunia
sana.
Mereka butuh tangan saljumu untuk meredakan dahaga cinta yang
dikekang jeratan tamak.
Mereka dulunya merasa sendiri, sekarang mereka merasa punya
keluarga.
Di dunia yang kau buktikan ini, bahwa perbedaan bukan lagi
alasan untuk menjauh.
Bahwa pertolongan tulus dari hati akan menyadarkan mereka
yang ragu.
Cita-cita murni tentang mimpi membangun dunia yang penuh
cinta.
Ketika kau ulurkan tanganmu, aku sedang sedih. Tak ada yang
membantu.
Kau sangat bersemangat seakan tak ada luka dalam dadamu.
Itulah prinsipmu.
Hukum hewani seakan raib ketika kau datang, yang ada hukum
manusia.
Manusia yang memberi manusia, bukan manusia menerkam
manusia.
Ketika kusadar dari sedihku kulihat banyak orang yang sama
pulihnya.
Sembari menantang hari baru yang penuh pemberian ikhlas dari
kalbu.
Bersama-sama terjalin dalam ikatan yang tak akan pernah
rapuh.
Semua yang telah kau bantu akan bersamamu, karena
meneladanimu.
Jadilah terus teladan bagi yang lain,
kami mendukungmu.
Dalam hati-hati kami yang padu.
Demi dunia yang lebih berarti.
*Penulis adalah sastrawan sejarah dari Komunitas Rempah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar