Kamis, 27 Oktober 2016

Puisi Filantropi: Tentang Pertolonganmu di kala aku sedih



Oleh: Mulki Mulyadi*

Tak pasti jika aku sedang kelelahan apakah ada yang menopangku.
Tak pasti bila ada kebutuhanku ada yang mencukupiku.
Jenuh dengan rutinitas buatku kaku dengan urat-urat yang mengeras.
Aku tak yakin bila kubicara tentang dunia, ada yang dengan senang hati mendengarku.
Dunia dimana hati-hati manusia berpacu terus membuat perubahan.
Sebuah belantara yang hukumnya pun hukum rimba, tak pasti.

Tapi pertolonganmu telah memberi arti tentang kemanusiaan.
Seperti daun yang jatuh ke tanah yang memberi makna kesuburan.
Jarang ada kepedulian seperti yang engkau lakukan ini, jarang.
Dikala semua manusia bagaikan orang-orangan sawah yang digerakkan.
Atau robot yang berpacu dalam dentuman waktu tanpa akhir.
Tanpa perasaan untuk berbagi dan bersuka cita dengan sesama.
Di dunia yang telah membeku ini, semua hati pun membeku dalam mimpi.
Tentang kemakmuran yang tidak terbatas walau sumbernya terbatas.

Kau berpikir dengan cinta, bukan cinta yang membuatmu berpikir.
Orang-orang yang kemalangan menerima nasib baik darimu.
Penderitaan tersembuhkan dan kesedihan tak lagi terperikan.
Karena dikala orang tercabik hatinya, kau datang dengan obat beribu cinta.
Bagai salep mujarab sembuhkan perangai dusta diantara manusia.
Tumbuhkan benih kebersamaan dalam jeritan nafas tersengal manusia modern.

Tentang dirimu yang bertangan salju, ditengah panasnya udara padang pasir.
Tahukan engkau ribuan orang menjerit kehausan diujung dunia sana.
Mereka butuh tangan saljumu untuk meredakan dahaga cinta yang dikekang jeratan tamak.
Mereka dulunya merasa sendiri, sekarang mereka merasa punya keluarga.
Di dunia yang kau buktikan ini, bahwa perbedaan bukan lagi alasan untuk menjauh.
Bahwa pertolongan tulus dari hati akan menyadarkan mereka yang ragu.
Cita-cita murni tentang mimpi membangun dunia yang penuh cinta.
Ketika kau ulurkan tanganmu, aku sedang sedih. Tak ada yang membantu.
Kau sangat bersemangat seakan tak ada luka dalam dadamu. Itulah prinsipmu.

Hukum hewani seakan raib ketika kau datang, yang ada hukum manusia.
Manusia yang memberi manusia, bukan manusia menerkam manusia.
Ketika kusadar dari sedihku kulihat banyak orang yang sama pulihnya.
Sembari menantang hari baru yang penuh pemberian ikhlas dari kalbu.
Bersama-sama terjalin dalam ikatan yang tak akan pernah rapuh.
Semua yang telah kau bantu akan bersamamu, karena meneladanimu.
Jadilah terus teladan bagi yang lain, 
kami mendukungmu.
Dalam hati-hati kami yang padu.
Demi dunia yang lebih berarti.




*Penulis adalah sastrawan sejarah dari Komunitas Rempah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar