Oleh: Mulki Mulyadi
Dalam gambar yang seakan bergerak itu ada budaya yang menepi.
Goresan kuas itu menyentuh dan mengalur menjadi cerita bergambar.
Di jepang ia disebut manga, di amerika namanya kartun.
Ceritanya macam-macam tokohnya cerminan variasi.
Populer sekarang di tengah anak muda yang doyan panorama.
Tapi tak bisa menggambar hanya baca dan baca sampai lupa waktu.
Bukti kreatifitas bangsa lain yang bangsa sendiri hanya jadi penonton.
Dalam sosok imaji itu ada pelukis dibaliknya, penanya meliuk
halus.
fantasinya tak terbayang hasilkan karya yang utuh bagai membaca
buku.
Manga, kartun, sosok hero yang digemari itu, otak dibaliknya
cerdas bukan kepalang.
Hasil seni kontemporer yang marak dikomunitas rakyat modern.
Tapi lukisan juga punya pasarnya, warna warni dunia yang
mencerminkan realitas.
Kebudayaan masyarakat yang terpadu dalam bingkai makna terpatri.
Gambar-gambar itu luar biasa binalnya, tertafsir di setiap kepala
melalui mata.
Persepsi menentukan hasil bagus tidaknya tergantung selera pembaca.
Menilai dari rasa dan dalamnya makna seni indah yang terpatri.
Dalamnya seni diraih oleh si mata jeli, membaca arti rupa.
Lalu digerakkan warna warni kuas itu, jadi ia sebuah rupa
bergerak.
Dalam narasi cerita yang memantik minat anak remaja.
Tapi cerita memang tak jauh dari aksi dan romansa.
Ada sedikit kisah mendidik tapi biasanya kurang diminati.
Anak bangsa buat sendiri juga kurang banyak yang menyukai.
Katanya ga niat kurang ide dan kreativitas malah membosankan.
Bilakah nanti ada karya baru hadapi pesaing mancanegara.
Dapat menggambar untaian warna yang sarat muatan edukasi.
Didik anak bangsa kembangkan mental sepenuh hati.
Jaya negeri dari ranah seni rupa yang layak jadi nontonan massa.
Tua muda tak kenal usia dapat ambil manfaat.
Selalu, moga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar